Secara umum anak-anak sekolah di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama pada daerah-daerah yang terdampak penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid- 19), telah ditetapkan untuk belajar di rumah selama hampir 3 bulan terakhir. Hal ini sebagai salah satu upaya untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Belajar di rumah, adalah sebuah ungkapan yang seolah terdengar sebagai sebuah proses belajar dengan kualitas yang agak lebih rendah ketimbang proses belajar formal di sekolah. Maka apa yang menarik dari timbulnya kebijakan agresif di bidang pendidikan ini sebagai upaya pencegahan atas pandemi Covid-19 untuk menjadi sebuah perenungan kembali? Menarik untuk direnungkan, mengapa sejak dulu di sekolah-sekolah dasar misalnya, kita diajarkan sebuah ungkapan yang mengatakan “Kejarlah ilmu sampai negeri China”. 

Belajar dari buku “Pembahasan Budi Pekerti Di Zi Gui, Menuju Kehidupan Bahagia”, yang ditulis oleh penuturnya, Guru Cai Li Xu, bahwa pada zaman dahulu, orang tua di China berpendapat bahwa pembentukan perilaku luhur dan etika harus diutamakan, baru kemudian mempelajari ilmu lain. Menurutnya, kalau anak tidak dididik dengan benar, ilmu lain yang ia pelajari bisa menjadi bumerang bagi bangsa dan negara. Tujuan pendidikan Di Zi Gui ini adalah untuk membentuk manusia seutuhnya, sehat jasmani dan rohani, jadi andalan keluarga, dan juga mengabdi kepada bangsa dan negara. Pelajaran Di Zi Gui ini mengatur tatanan dari hubungan yang paling erat di antara anggota keluarga, sampai cara berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain.